Prevalensi Stunting Indonesia Turun 21,6 Persen

oleh -21 Dilihat
Prevalensi Stunting Indonesia Turun 21,6 Persen
Ilustrasi Stunting. (Foto: Istimewa)

Sumber : Humas Kemenkes

JAKARTA, Redaksi RakyatBerdasarkan data Survei Status Gizi Nasional (SSGI) di 2022, prevalensi stunting di Indonesia berada diangka 21,6 persen.

Jumlah prevalensi stunting itu menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang berada diangka 24,4 persen.

Namun, menurut Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, angka tersebut masih tinggi.

Mengingat, target prevalensi stunting di 2024, sebesar 14 persen dan standar WHO dibawah 20 persen.

Angka stunting tersebut, kata dia, disebabkan berbagai faktor, salah satunya karena kurangnya asupan penting seperti protein hewani, nabati, dan zat besi sejak sebelum sampai setelah kelahiran.

Hal ini berdampak pada bayi lahir dengan gizi yang kurang, sehingga anak menjadi stunting.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengkampanyekan pentingnya pemberian protein hewani kepada anak, utamanya anak usia dibawah 2 tahun.

“Setelah bayi berusia 6 bulan harus rajin melakukan pengukuran, karena selain ASI eksklusif juga ada makanan tambahan. Kalau kurang protein hewani anaknya bisa stunting. Protein hewani ini seperti susu, telur, ikan dan ayam,” kata Menkes Budi, di Jakarta, Rabu, 25 Januari 2023.

Ia menekankan, cara tersebut efektif mencegah stunting pada anak, karena protein hewani mengandung zat gizi lengkap seperti asam amino, mineral, dan vitamin yang penting untuk mendukung pertumbuhan maupun perkembangan anak.

Hal ini, juga diperkuat dengan hasil penelitian yang menunjukkan adanya bukti kuat hubungan antara stunting dan indikator konsumsi pangan berasal dari hewan, seperti telur, daging/ikan dan susu atau produk olahannya (keju, yogurt, dll).

Penelitian tersebut juga menunjukan konsumsi pangan berasal dari protein hewani lebih dari satu jenis dan menguntungkan daripada konsumsi pangan berasal dari hewani tunggal.

Meski bermanfaat untuk mencegah stunting pada anak, konsumsi protein per kapita masih tergolong rendah.

Data Susenas 2022 menunjukkan rata-rata konsumsi protein per kapita sehari 62.21 gram (diatas standar 57 gram).

Tetapi konsumsi telur dan susu 3.37 gram, daging 4.79 gram, dan ikan/udang/cumi/kerang berkisar 9.58 persen.

Ia berharap peringatan Hari Gizi Nasional ke-63 di 2023 yang mengusung tema Protein Hewani Cegah Stunting dengan slogan Protein Hewani Setiap Makan dan Isi Piringku Kaya Protein Hewani menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia melakukan upaya pencegahan stunting melalui pemenuhan gizi seimbang pada anak.

“Tidak hanya memberikan protein hewani pada anak, berat dan tinggi badan anak juga harus dipantau secara berkala di Posyandu. Ini penting untuk melihat keberhasilan intervensi sekaligus upaya deteksi dini masalah kesehatan gizi sehingga tidak terlambat ditangani,” pungkasnya.