Vaksinasi Dosis Kedua di Sulteng Capai 36,6 Persen

oleh -132 Dilihat
Ilustrasi. (Foto diambil dari BeritaSatu.com)

Penulis : Ozhan

Redaksi Rakyat Vaksinasi dosis kedua berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) per 18 Desember 2021, telah mencapai 36,6 persen atau sekitar 782.152 jiwa.

“Sedangkan untuk dosis pertama sudah mencapai 64,8 persen atau 1.341.662 jiwa yang telah di vaksin,” ujar Kepala Dinkes Sulteng, Dr. I Komang Adi Sujendra, saat dihubungi via telepon, Senin, 20 Desember 2021.

Dia mengaku optimis capaian vaksinasi akan terus mengalami kenaikan.

Pasalnya, seluruh daerah dinilainya bersemangat meningkatkan laju capaian vaksinasi, termasuk di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo).

“Saya optimis capaian vaksinasi akan terus naik,” katanya.

Berkaitan dengan hal itu, dia juga meminta, agar masyarakat tetap memperketat protokol kesehatan (Prokes) untuk mengantisipasi penyebaran COVID-19 varian Amicron.

Meskipun populasi orang disatu daerah telah di vaksin.

Pasalnya, varian Amicron berpotensi akan menginfeksi seseorang, meskipun telah di vaksin.

Apalagi, Heard Immunity (Kekebalan Kelompok) belum seluruhnya terbentuk.

Ditambah lagi, varian Amicron dapat menghindari sistem imun, baik yang terbentuk secara alami dalam tubuh manusia maupun memalui penyuntikan vaksin.

Kemudian, varian hasil mutasi tersebut, juga berpotensi dapat menginfeksi kembali.

Dengan presentase vaksinasi COVID-19 ditingkat kabupaten yang belum seluruhnya tercapai, besar kemungkinan orang di populasi tersebut, berpotensi terinfeksi.

Sehingga, masyarakat harus tetap melakukan proteksi diri, dengan menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas hingga Heard Immunity terbentuk.

“Sebenarnya, yang paling penting menyaring virus jangan sampai masuk ketubuh, harus menggunakan masker,” ucap I Komang Adi Sejendra.

Menurutnya, semakin besar kemampuan menggerakan orang dari satu pulau ke pulau lain, mengakibatkan meningkatnya mobilitas virus.

Pasalnya, daerah terkoneksi oleh alat trasportasi yang membawa manusia dan virus didalam tubuh.

Guna melakukan pencegahan, perlu satu regulasi lokal disetiap daerah untuk menekan mobiltas masyarakat pada momen perayaan Natal dan Tahun Baru 2022.

Varian Amicron, kata dia, memiliki sekian kali lipat lebih tinggi replikasinya dibandingkan varian Delta. “Tapi belum ada bukti keparahan penyakit tersebut. Varian Amicron ini memiliki kemampuan menginfeksi lebih tinggi dibandingkan varian Delta,” pungkasnya.